like box Hajami Atmaja

Kamis, 12 Oktober 2017

HATI BATU

HATI BATU

hajami-atmaja.blogspot.com

Batu..
Tetaplah seonggok batu ….
Walau diterpa air dingin
Atau didera hembusan angin ….
Bila jumpa tangan piawai ….
Dibolak balik…
Dikerik digosok ….
Jadilah ia permata ….

Hati …
Tetaplah segumpal daging …
Walau dibisik ayat seribu ….
Atau dicambuk ibadah menggebu ….
Hingga bila tangan yang MAHA LEMBUT ..….
Membolak balik ….
Menerangi ….
Jadilah dia zikir …..

Yang menambat indranya ….
Yang mengurung nafsunya….
Hanyut ….
Di keheningan rasanya ……
Untuk kembali kefitrah
Mengenal TUHAN nya …..


Tuhan ALLAH azza wa jalla …..,,,#

@hajami_atmaja

Minggu, 06 Januari 2013

ILMU LADUNNI


Dr. Yunasril Ali
Dosen UIN Jakarta


ILMU LADUNNI ITU  HANYA BAGI MEREKA YANG SUCI
            Sebagai makhluk yang serba ingin tahu , tiap manusia tentunya akan selalu berburu pengetahuan . Jika pengetahuan itu umumnya diperoleh melalui proses belajar , maka ada pula yang diperoleh melalui ilmu ladunni .

            Menurut Dr. Yunasril Ali , dosen yanag relatif familiar dengan pandangan – pandangan tasawuf al – Ghazali dan Ibnu Arabi ini , mereka yang senantiasa menjaga kesucian hatinya boleh jadi akan mendapat limpahan  pengetahuan langsung dari Allah .

            Jenis pengetahuan inilah yang ia maksudkan dengan ilmu ladunni  ini, berikut petikan wawancara Cahaya Sufi dengan pengamal tasawuf yang beberapa tahun lalu justru pernah mengecam ilmu ladunni  ini .

            Menurut Anda , apa yang dimaksud dengan ilmu ladunni , dan adakah ayat al – Qur’an yang menyinggung soal ini ?

            Dalam bahasa Arab , laduni itu artinya di sisi , term  ini terdapat misalnya dalam surah al – Kahfi ayat 65 yang mengisahkan antara Nabi Khidir dengan Nabi Musa , Nah , dalam ayat tersebut ada perkataan wa’allamnahu min – ladunna ‘ ilma  Artinya, “ Dan kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami ,” Atas dasar ini maka muncullah istilah ilmu ladunni .

            Jadi ilmu ladunni  itu adalah pengetahuan langsung yang dikaruniakan Allah kepada manusia tertentu , tanpa melalui pengajaran atau perantaraan guru,

            Apakah dalam kitab –kitab tasawuf ada uraian yang mengupas soal ilmu laduni ?

            Ya , ada ! Uraian yang agak panjang itu terdapat dalam kitab al – Risalah al – ladunniyahkarya al – Ghazali , selain al – Ghazali ada juga Ibnu Arabi . Penjelasan Ibnu Arabi tentang hal – hal yang berkaitan dengan ilmu ladunni  ini terdapat dalam mukaddimah Futuhat al – Makiyah , tetapi uraiannya tidak serinci al Gzahali , sementara dalam karya –karya Ibnu Arabi lainnya , semisal dalam Fushushul – Hikam , soal ini hanya disinggung sedikit – sedikit.


            Bagaimana pandangan al – Ghazali mengenai ilmu ladunni ini ?    

            Begini ! ilmu itu kan pengetahuan yang diperoleh manusia , Nah , cara memperolehnya itu ada dua cara , :
  1. Ada ilmu yang dicari oleh manusia ,
  2. Ada juga ilmu yang dikauniakan langsung oleh Allah .
Dalam istilah al – Ghazali , yang diuraikan dalam kitabnya al Risalah al – ladunniyah ,

Yang Pertama itu disebutnya ta’lim insany, yaitu ilmu yang diperoleh melalui pengajaran diantara manusia atau ilmu al – muktasab , yaitu yang dalam memperolehnya itu diusahakan oleh manusia .

Adapun katagori yang kedua disebutnya dengan ilmu mauhub atau ilmu yang dikaruniakan langsung oleh Allah.

      Kelompok yang pertama itu , itulah ilmu keseharian yang dipelajari manusia baik secara formal melalui lembaga – lembaga pendidikan maupun secara informal. Adapun kelompok ilmu yang kedua , yaitu ilmu ladunni  , sebenarnya memang ada juga unsur usahanya , hanya saja usahanya itu bersifat tidak langsung . Aspek usahanya itu tiada lain adalah melalui intensitas amal sampai sedemikian rupa , sehingga kualitas hatinya itu memang sudah layak untuk dapat menerima limpahan ilmu ladunni , nah ilmu ladunni  itu dinamakan juga dengan ilmu mukasyafah . Sebab limpahan ilmu ladunni itu diterima manusia pada saat mengalami mukasyafah , yaitu terbukanya hijab antara hamba dengan Allah

      Lalu bagaimana dengan pandangan Ibnu Arabi ?

      Pada intinya tidak berbeda dengan penjelasan al Ghazali. Menurut Ibnu Arabi , yang muktasab itu dibagi dua , yaitu ilmul – aqli dan ilmul – ahwal .
Ilmul – aqli itu adalah ilmu dari hasil penalaran , sedangkan ilmul – ahwal adalah ilmu dari hasil exkperimen atau penelitian empiris . Adapun istilah Ibnu Arabi terhadap ilmu mauhub atau ilmuladunni  tadi adalah ilmul – asrar karena cara mendapatkannya itu adalah berupa karunia dari Allah secara langsung kecuali itu , ilmu asrar ini tidak semua harus disampaikan kepada ummat. Jadi dikatakan ilmu asrar itu karena ada bagian – bagian yang perlu dirahasiakan dari ummat Islam pada umumnya




      Jika demikian , apakah ilmu ladunni ini hanya otoritas kaum sufi / wali saja ?

      Kalau kita baca uraian – uraian dari kaum sufi ada kesan seperti itu . Menurut Ibnu Arabi misalnya , yang bisa mendapatkan ilmu ladunni  itu hanyalah orang –orang yang hatinya sudah sangat suci . Analoginya begini … Ilmu itu kan biasa diibaratkan dengan nur atau cahaya . Nah , dengan demikian limpahan cahaya itu sangat bergantung dengan kesiapan penerima cahayanya . Dalam konteks ini , Ibnu Arabi menyinggung soal isti’dad yaitu kesiapan atau kelayakan kualitas batin untuk dapat menerima anugerah ilmu dari yang Maha Suci kan kualitas hati penerimanya juga meski suci pula . Adapun orang – orang yang sudah jelas jelas sangat suci hatinya itu tiada lain adalah para nabi, para wali dan para sufi . Hanya saja dalam konteks nabi dan rasul itu disebut nubuwwah dan risalah dan apa yang diberikan Allah kepadanya disebut dengan wahyu , sedangkan dalam konteks sufi atau wali disebut walayah atau kewalian , dan apa yang diberikan Allah kepadanya disebut dengan ilmu ladunni .

      Apakah definisi ilmu ladunni itu hanya dilihat dari cara perolehannya saja, ataukah dapat juga dilihat dari segi obyek pengetahuannya ?

      Sejauh yang saya baca dari tulisan Ibnu Arabi dan al Ghazali , keduanya cenderung melihatnya dari segi cara perolehannya. Maka sebenarnya , menurut mereka ilmu ladunni  itu bila ditinjau dari cara perolehannya hampir sama dengan wahyu , hanya tentu saja tingkatannya dibawah wahyu .

      Jadi perbedaan antara ilmu ladunni dengan wahyu ?

      Perbedaannya jelas , kalau wahyu itu kan hanya untuk mereka yang ditunjuk sebagai nabi dan atau rasul . Sementara ilmu ladunni  adalah dunia walayah atau kewalian yang personnya tidak ditentukan . Jadi siapa saja yang kualitas hatinya sudah sangat suci sehingga mencapai derajat wali atau sufi , maka atas idzin Allah dia  akan ( berpeluang ) memperoleh anugerah berupa ilmuladunni  selain itu , apabila  wahyu yang dianugrahkan kepada para rasul itu mutlak harus disampaikan kepada ummat , sedangkan pengetahuan yang dperoleh melalui ilmu ladunni  tidak mutlak harus disampaikan kepada ummat.

      Apakah karena alasan yang terakhir itu sehingga Ibnu Arabi menyebutnya juga dengan istilah ilmu asrar ?

      Ya , diantaranya seperti itu dengan demikian , meski ilmu ladunni  itupun bersifat mutlak kebenarannya karena memang berasal dari Yang Maha Benar, tetapi terhadap wali atau sufi yang memperolehnya tidak dibebankan kewajiban untuk menyampaikan pengetahuan tadi kepada orang lain .

Tapi , bukankah Islam telah mewajibkan kepada ummatnya untuk berdakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing –masing ?

      Ya itu benar . Tetapi apa yang harus didakwahkan oleh para wali atau sufi itu bukan apa yang diperolehnya melalui ilmu ladunni  tadi , melainkan risalah umum yang telah disampaikan Kepada Nabi Muhammad . Dengan kata lain , apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada ummat manusia itulah yang harus mereka dakwahkan . Nah dalam konteks Rasulullah , apa yang beliau sampaikan itu adalah risalah .
      Selain risalah , beliau juga memiliki nubuwwah yang bersifat khusus dan personal sehingga tidak beliau sampaikan kepada sembarang orang . Beliau hanya menyampaikan aspek nubuwwah itu kepada orang –orang tertentu saja , seperti kapada Uwais.
      Karena itu Uwais ini memiliki pengetahuan – pengetahuan khusus yang bahkan para sahabat utama nabi sendiri tidak mengetahuinya . Analog dengan nubuwwah , itulah ilmu ladunni  yang dianugeragakn Allah secara langsung dan khusus kepada hamba – hambanya yang suci .

      Mengapa ilmu ladunni tidak boleh disampaikan secara begitu saja kepada ummat ?

      Sebab itu tadi …ilmu ladunni  itu berada dalam dataran dunia walayah atau kewalian yang sifat pengetahuannya itu begitu khusus dan sublim. Bila ini disampaikan juga , jangan –jangan malah bisa menyesatkan orang lain . Dengan demikian , bila ada orang yang mengklaim mendapat ilmu ladunni , dan lantas dia mengobral pengetahuannya itu kepada sembarang orang , saya kira orang itu patut diragukan kebenarannya sebab sebagaimana tadi sudah disinggung , anugerah ilmu ladunni  itu kan hanya dimungkinkan bagi mereka yang hatinya sudah suci .
      Karena itu mereka yang memperoleh ilmu ladunni  pasti orangnya itu sangat arif     . Orang yang arif itu kan dapat mengantisipasi tingkat kemadlaratan bagi orang lain. Jika pun ada dari kalangan sufi yang terekspos , sehingga mengundang kontroversi , itu boleh jadi ulah para murid atau pengikut – pengikutnya.

      Jadi jika pengetahuan yang diperoleh secara ladunni itu kemudian diekspos ke orang lain bisa – bisa akan menimbulkan fitnah ?

      Ya. Bila orang yang mendengar ilmu ladunni  tadi belum siap menerimanya , dalam arti kemampuan atau tingkat kesucian hatinya biasa – biasa saja serta pengalaman spiritualnya masih terbatas , ya akibatnya bisa repot .

      Jika ilmu ladunni hanya bagi mereka yang suci , lalu bagaimana dengan pengetahuan yang dianugerahkan secara langsung oleh Allah kepada umat Islam  pada umumnya ?

      Itu mungkin namanya bukan ilmu ladunni , melainkan ilham . Sebab berbeda dengan ilmuladunni , ilham itu bisa diberikan keapada siapa saja .

      Apa perbedaan yang substansial antara ilmu ladunni dengan ilham ?

      Ilmu ladunni  itu sebagaimana ditegaskan Ibnu Arabi , sifatnya mutlak benar . Sedangkan ilham itu bisa benar , bisa juga salah , sebagaimana ditegaskan dalam surat Asy – Syams ayat 7 : “ kami ilhamkan kepada manusia jalan kefasikan dan ketakwaannya “ . Jadi yang diilhamkan itu bisa dua , yaitu fujuraha sebagai representasi dari ilham yanag salah ; dan wataqwaha yang mengacu pada ilham yang benar .
Bahkan dalam ayat selanjutnya dinyatakan bahwa beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya , karena itu mereka berhak mendapatkan ilham yang benar . Sebaliknya merugilah orang yang mengotori jiwanya , karena itu mereka berhak atas ilham yang salah.

Lantas bagaimana untuk dapat mengetahui apakah suatu ilham itu benar ataukah salah ?

Ya tinggal intropeksi diri saja , sejauh mana kondisi atau kualitas hati kita pada saat itu . Sejauh mana pula hati kita itu terpaut pada Allah . Singkatnya , ilham itu bisa benar dan bisa juga salah sangat tergantung pada kualitas hati orang yang bersangkutan.

Selain al – Qur’an , apakah ada hadist yang menyinggung soal ilmu ladunni ?

Ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Nuaim . Barangsiapa mengamalkan ilmunya , maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum dia ketahui . Nah , hadist ini bila dipahami maknanya secara mendalam , maka kandungannya mengarah pada ilmu ladunni  yang tadi kita jelaskan . tapi pengertiannya mengamalkan ilmu yang dimaksud dlam hadist ini tentunya bukan sekedar amaliah formal , melainkan amal yang mengandung kedalaman aspek batiniyahnya . Karenanya …ya itu tadi ! ilmu ladunni  itu erat kaitannya dengan kualitas . Jadi , semakin suci kualitas seseorang , maka dia akan semakin berpeluang mendapaat ilmu ladunni 



" NASHIYAH "


NASHIYAH

Al-Qur’an menyifati kata nashiyah dengan kata kadzibah khathi’ah (berdusta lagi durhaka). Allah berfirman, “(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16)

Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak berbicara?  Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak berbuat salah?

Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”

Kemudian ia memaparkan masalah ini menurut beberapa pakar ahli. Di antaranya adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.

Karena itu, undang-undang di sebagian negara bagian Amerika Serikat menetapkan sanksi gembong penjahat yang merepotkan kepolisian dengan mengangkat bagian depan dari otak (ubun-ubun) karena merupakan pusat kendali dan instruksi, agar penjahat tersebut menjadi seperti anak kecil penurut yang menerima perintah dari siapa saja.

Dengan mempelajari susunan organ bagian atas dahi, maka ditemukan bahwa ia terdiri dari salah satu tulang tengkorak yang disebut frontal bone. Tugas tulang ini adalah melindungi salah satu cuping otak yang disebut frontal lobe. Di dalamnya terdapat sejumlah pusat neorotis yang berbeda dari segi tempat dan fungsinya.

Lapisan depan merupakan bagian terbesar dari frontal lobe, dan tugasnya terkait dengan pembentukan kepribadian individu. Ia dianggap sebagai pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Ia memainkan peran yang terstruktur bagi kedalaman sensasi individu, dan ia memiliki pengaruh dalam menentukan inisiasi dan kognisi.

Lapisan ini berada tepat di belakang dahi. Maksudnya, ia bersembunyi di dalam ubun-ubun. Dengan demikian, lapisan depan itulah yang mengarahkan sebagian tindakan manusia yang menunjukkan kepribadiannya seperti kejujuran dan kebohongan, kebenaran dan kesalahan, dan seterusnya. Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.



Ketika Prof. Keith L Moore melansir penelitian bersama kami seputar mukjizat ilmiah dalam ubun-ubun pada semintar internasional di Kairo, ia tidak hanya berbicara tentang fungsi frontal lobe dalam otak (ubun-ubun) manusia. Bahkan, pembicaraan merembet kepada fungsi ubun-ubun pada otak hewan dengan berbagai jenis. Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun.

Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarauh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak. Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah, “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)

Beberapa hadits Nabi SAW yang bericara tentang ubun-ubun, seperti doa Nabi SAW, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu…”

Juga seperti doa Nabi SAW, “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya…”

Juga seperti sabda Nabi SAW, “Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya hingga hari Kiamat.”

Apabila kita menyandingkan makna nash-nash di atas, maka kita menyimpulkan bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengendali perilaku manusia, dan juga perilaku hewan.

Makna Bahasa dan Pendapat Para Mufasir:

Allah berfirman,


“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang berdusta lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 15-16)

Kata nasfa’ berarti memegang dan menarik. Sebuah pendapat mengatakan bahwa kata ini terambil dari kalimat safa’at asy-syamsu yang berarti matahari mengubah wajahnya menjadi hitam. Sementara kata nashiyah berarti bagian depan kepala atau ubun-ubun.

Mayoritas mufasir menakwili ayat bahwa sifat bohong dan durhaka itu bukan untuk ubun-ubun, melainkan untuk empunya. Sementara ulama selebihnya membiarkannya tanpa takwil, seperti al-Hafizh Ibnu Katsir.

Dari pendapat para mufasir tersebut, jelas bahwa mereka tidak tahu ubun-ubun sebagai pusat pengambilan keputusan untuk berbuat bohong dan durhaka. Hal itu yang mendorong mereka untuk menakwilinya secara jauh dari makna tekstual. Jadi, mereka menakwili shifat dan maushuf (yang disifati) dalam firman Allah, “Ubun-ubun yang dusta lagi durhaka” itu sebagai mudhaf dan mudhaf ilaih. Padahal perbedaan dari segi segi bahasa antara shifat dan maushuf dengan mudhaf dan mudhaf ilaih itu sangat jelas.

Sementara mufasir lain membiarka nash tersebut tanpa memaksakan diri untuk memasuki hal-hal yang belum terjangkau oleh pengetahuan mereka pada waktu itu.

Sisi-Sisi Mukjizat Ilmiah:

Prof. Keith L Moore mengajukan argumen atas mukjizat ilmiah ini dengan mengatakan, “Informasi-informasi yang kita ketahui tentang fungsi otak itu sebelum pernah disebutkan sepanjang sejarah, dan kita tidak menemukannya sama sekali dalam buku-buku kedokteran. Seandainya kita mengumpulkan semua buku pengobatan di masa Nabi SAW dan beberapa abad sesudahnya, maka kita tidak menemukan keterangan apapun tentang fungsi frontal lobe atau ubun-ubun. Pembicaraan tentangnya tidak ada kecuali dalam kitab ini (al-Qur’an al-Karim). Hal itu menunjukkan bahwa ini adalah ilmu Allah yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, dan membuktikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.

Pengetahuan tentang fungsi frontal lobe dimulai pada tahun 1842, yaitu ketika salah seorang pekerja di Amerika tertusuk ubun-ubunnya stik, lalu hal tersebut memengaruhi perilakunya, tetapi tidak membahayakan fungsi tubuh yang lain. Dari sini para dokter mulai mengetahui fungsi frontal lobe dan hubungannya dengan perilaku seseorang.

Para dokter sebelum itu meyakini bahwa bagian dari otak manusia ini adalah area bisu yang tidak memiliki fungsi. Lalu, siapa yang Muhammad SAW bahwa bagian dari otak ini merupakan pusat kontrol manusia dan hewan, dan bahwa ia adalah sumber kebohongan dan kesalahan.

Para mufasir besar terpaksa menakwili nash yang jelas bagi mereka ini karena mereka belum memahami rahasianya, dengan tujuan untuk melindungi Al Qur’an dari pendustaan manusia yang jahil terhadap hakikat ini di sepanjang zaman yang lalu. Sementara kita melihat masalah ini sangat jelas di dalam Kita Allah dan Sunnah Rasulullah SAW, bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarah dalam diri orang dan hewan.

Jadi, siapa yang memberitahu Muhammad SAW di antara seluruh umat di bumi ini tentang rahasia dan hakikat tersebut? Itulah pengetahuan Allah yang tidak datang kepadanya kebatilan dari arah depan dan belakangnya, dan itu merupakan bukti dari Allah bahwa Al Qur’an itu berasal dari sisi-Nya, karena ia diturunkan dengan pengetahuan-Nya. Wallahua'lam.

Jumat, 11 November 2011

AL - FATIHAH



Fatihah bermanfaat sebagai pakaian di dalam kubur ,
membaca fatihah berarti berdialog dengan Allah ,
memuji – NYA , dan berdo’a  kepada – NYA  ,
agar ibadah kita diterima .

Rasulullah s.a.w. bersabda :
“ sesungguhnya  Allah telah menurunkan kepadaku suatu surat ,
yang tidak diturunkan kepada Rasul dan Nabi sebelumku “
( H.R. Baihaqi dari Abdullah Ibnu Abbas )  ,

Selanjutnya Rasulullah s.a.w , bersabda , bahwa Allah berfirman :
“ aku telah membagi dua surat Al – Fatihah menjadi dua bagian ,  
sebagian untuk – ku , sebagian lagi untuk hamba – ku “ .



Apabila seorang hamba mengucapkan Bismillahirrahmaanirrahiim ,

maka Allah berfirman :

“ Hamba – ku telah mendo’a kepada – ku
dengan menyebut dua nama yang lemah lembut ,
yang keduanya saling bertalian ,
Arrahim bertalian dengan Arrahman ,
tiap – tiap keduanya saling bertalian “
Arrahim mengandung pengertian lebih pengasih dari Arrahman ,
Arrahman , artinya Maha Kasih Sayang  Allah
kepada semua makhluk – NYA yang kafir ,
sedangkan
Arrahim berarti Maha Penyayang
Kepada hamba –NYA yang beriman ,
bukan kepada orang kafir dan sebangsanya,




Manakala hamba – NYA mengucapkan Alhamdulillaah ,
yang artinya segala puji bagi Allah ,

Maka Allah berfirman : ,

“ Telah berterima kasih hambaku , sekaligus memujiku “




Apabila hamba  mengucapkan Rabbil aalamiin ,
yang artinya : Tuhan semesta alam ,

Allah berfirman :,

“ Hamba – Ku bersaksi ,
bahwa aku Tuhan semesta alam ,Tuhan seklaian alam ,
Tuhannya sekalian Manusia dan Jin , sekalian Malaikat dan Setan ,
Tuhan sekalian Makhluk , dan Tuhan menjadikan tiap –tiap sesuatu “ ,




Ketika hamba melafalkan Arrahmanirrahiim,
yang artinya Allah maha pengasih lagi maha penyayang ,

Allah berfirman :

“ Telah mengagungkan Aku hamba – Ku “,





Jika hamba mengatakan Maaliki yaumiddiin, ya’nii yaumil hisaab,
yang artinya memiliki hari Agama, yakni hari berhisab ( hari kiamat ) ,

Allah berfirman : ,

“ Hamba – Ku bersaksi ,
bahwasannya tidak ada yang memiliki hari agama selain aku “,





Ketika hamba melafalkan iyyaaka na’budu wa iyaka nasta’iin
yang artinya hanya kepada – Mu kami beribadah ( menyembah )
dan hanya kepada – Mu kami memohon pertolongan ,

Allah berfirman : ,

“ Inilah antara aku dengan hamba – Ku , ia beribadah kepada – Ku ,
inilah untuk – Ku , dan pada – Ku ia minta tolong , inilah untuk – Nya “,





Manakala hamba mengucapkan Ihdinash shiraathal mustaqiim,
shiraathalladzina an’amta ‘alaihim ,
ghairil magdhuubi alaihim waladhdhaalliin ,
yang artinya Tunjukilah kami jalan yang lurus ,
jalan oranag –orang yang engkau beri nikmat atas mereka ,
bukan pada jalan yang sesat ,

Allah berfirman : ,

Maka demikianlah permintaan hamba – Ku ,
karena itu untuk hamba – Ku tersedia apa yang ia minta “





Dan jika hamba melafalkan Aamiin ,
yang artinya terimalah , ya Tuhanku ,

Allah berfirman : ,

“ Inilah jalan keselamatanmu  dan jalan keselamatan umat ,
dan barangsiapa mengikuti petunjuk itu ,
Kami selamatkan dari neraka “ .




Al Fatihah sebagai media komunikasi kita dan
kesempatan berdialog dengan Allah s.w.t. ,



Sabtu, 29 Oktober 2011

MENCIPTAKAN QALBUN SALIM





Dalam salah satu do’a nya , Nabi Ibrahim AS memohon kepada Allah SWT , agar tidak dihinakan pada hari kiamat ,  “ janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan “ ,    ( yaitu ) dihari harta dan anak laki – laki tidak berguna , kecuali orang – orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih .    وَلا تُخزِنى يَومَ يُبعَثونَ ﴿٨٧﴾ يَومَ لا يَنفَعُ مالٌ وَلا بَنونَ ﴿٨٨﴾ إِلّا مَن أَتَى اللَّهَ بِقَلبٍ سَليمٍ ﴿٨٩﴾( QS al Syu’ara [ 26 ] : 87 – 89 ) .

Ada 3 ( tiga ) hal yang perlu diperhatikan dalam do’a Nabi Ibrahim ini : ,

Pertama, kekhawatiran tentang azab akhirat , seabagai Nabi bahkan sebagai bapak Nabi – Nabi , dan bergelar  “ Khalil Allah “ ( kekasih Allah ) , Nabi Ibrahim masih khawatir kalau – kalau dihinakan oleh Allah pada hari kiamat , kekhawatiran semacam ini patut di contoh .

Kedua, devaluasi nilai harta ( kekayaan ) dan keturunan ( pengikut ) untuk ukuran duniawi , harta dan anak –anak , termasuk pengikut , merupakan variabel utama yang menentukan status dan starata sosial manusia , di akhirat keduanya menjadi tidak penting , karena para malaikat sebagai “ aparat Tuhan “   Tak mungkin  “ disuap “  apalagi diteror .

Ketiga , kebersihan hati sebagai pangkal keselamatan di akhirat , jaminan keselamatan hanya diberikan kepada orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih , atau sehat ( Qalbun salim ) .

Banyak pendapat dari para pakar , khususnya dari kalangan ahli tafsir , yang pada pokoknya berkisar pada 3 ( tiga ) makna : ,

Pertama , seperti dikemukakan oleh Ibnu Katsir juga al – Alusi , qalbun salim bermakna salamat al – qalab’an al – syirk , aw al – aqa’id al – fasidah ( selamatnya hati dari sirik atau kepercayaan – kepercayaan yang sesat ) , hati yang sehat berarti memiliki akhidah yang benar , lurus , serta bebas dari segala bentuk kemusyrikan .

Kedua , qalbun salim berarti bersih dari penyakit hati , ( salim min amradh al –qulub ) , dalam permulaan surah al –Baqarah , dikemukakan tiga golongan manusia , yaitu : orang –orang takwa ( al – muttaqun ) , orang – orang kafir ( al – kafirun ) , dan orang – orang munafik ( al – munafiqun ) , golongan yang disebut terakhir ini adalah orang – orang yang hatinya berpenyakit , “ dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya ,  فى قُلوبِهِم مَرَضٌ فَزادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُم عَذابٌ أَليمٌ بِما كانوا يَكذِبونَ ﴿١٠,   , ( QS al -  Baqarah [ 2 ]: 10 ) .

Ketiga , seperti badan yang sehat , hati yang sehat juga memiliki kesempurnaan dan kekuatan melakukan apa yang menjadi tugas dan fungsinya sesuai maksud penciptaan .

Fungsi hati yang utama adalah mengenal Allah , yaitu iman dan takwa “  al taqwa ha – huna  “ ( takwa itu disini ) dan beliau menunjuk kedadanya 3 ( tiga ) kali , ( HR Baihaqi dari Abu Hurairah ) .

Tak bisa disangkal , hati yang sehat menjadi pangkal kebaikan dan pendorong amal saleh , ( ba’its li shalih al – a’mal ) .

Disini hanya hati yang disebut sebagai pangkal keselamatan di akhirat , bukan anggota badan yang lain , hal ini menurut imam al – Razi , karena kalau sehat hati , seluruh anggota badan yang lain ikut sehat , sebaliknya kalau lidah ( kata – kata ) dan anggota badan lain ( perbuatan ) tak sehat , sudah bisa dipastikan hati tak sehat ( berpenyakit ) .

Perawatan hati , seperti yang diajarkan para sufi , menjadi penting , perawatan hati seperti halnya perawatan fisik , memerlukan  dokter special yang tidak lain adalah para ulama, Dokter yang satu ini , menurut imam Ghazali , selain makin lama makin langka ,  “ sebagian dari mereka juga berpenyakit “  maka waspadalah . “ wallahu a’lam “ .




Senin, 09 Mei 2011

"AYAT YANG PALING DITAKUTI OLEH ULAMA"





Ayat Yang paling Ditakuti Oleh Ulama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


Betapa kurang ajarnya tingkah pemuda Yahudi Bani Qainuqa' di Madinah.
Pemuda-pemuda bejat akhlaqnya itu menarik-narik kain seorang perempuan yang sedang berjual beli dengan mereka.

Betapa sadisnya kebiadaban Yahudi Bani Nadzir di Madinah yang ingin menjatuhkan batu besar ke diri Rasulullah, Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam.

Dan betapa liciknya kemunafikan Yahudi Bani Quraiddhah yang mengadakan permufakatan rahasia dengan kafir Quraisy ketika perang Khandaq, di mana kaum muslimin dipimpin Rasulullah berada di dalam parit.

Bejatnya akhlaq, sadisnya tingkah dan liciknya hati busuk, semuanya telah mewabah pada darah daging mereka orang-orang Yahudi Bani Israel.

Dan penyakit akhlaq yang sampai memuncak itu tentunya ada bibit-bibit penyakitnya. Bukan sekadar kuman akhlaq yang ringan, tetapi kuman yang berbahaya.

Dan kuman itu tidak hanya sekali datang berlalu, namun sekali datang dan datang lagi, bahkan senantiasa diusahakan datang. Apa itu? "Aklihimus suht". Makanan mereka haram.
Di dalam Al-Quran ditegaskan oleh Allah:

“Dan engkau akan melihat kebanyakan dari mereka (orang Yahudi) berlomba-lomba dengan dosa dan permusuhan dan mema-kan yang haram. Sungguh buruklah apa yang mereka kerjakan”. (Al-Maidah : 62).

Kenapa yang jadi bibit penyakitnya makanan haram?
Jelas. Mereka memiliki energi, tenaga untuk berbuat adalah karena makanan. Lantas, mereka berbuat aneka usaha, arahnya adalah mencari makan.

Jadi makanan di sini ibarat terminal, tempat berangkat dan sekaligus tempat tujuan. Kalau makanan itu sudah jelas-jelas haram dan itulah yang menjadi pangkal mereka berbuat, maka kebaikan apa yang perlu mereka perjuangkan dengan modal makanan haram itu? Tidak mungkin mereka memburu kebaikan dengan umpan yang dimiliki berupa modal makanan haram.

Maka tidak mungkin pula mereka berhati-hati untuk memperhitungkan mana yang halal dan mana yang haram dalam memburu sasaran yang tak lain adalah makanan pula. Ibarat orang yang memang sudah memakai baju kotor untuk membengkel, mana mungkin ia menghitung-hitung mana tempat yang bersih dan mana yang kotor.

Toh tempat yang bersih ataupun kotor sama saja, bahkan lebih perlu menyingkiri tempat yang bersih, karena nanti harus bertugas membersihkan tempat itu kalau kena kotoran dari bajunya.

Singkatnya, dengan modal bekal makanan haram, perbuatan-nya pun cenderung menempuh jalan haram, dan hasilnya pun barang haram, kemudian dimakanlah hasil yang haram itu untuk bekal berbuat yang haram lagi dan seterusnya.

Moral buruk dan makanan haram
".....Sungguh buruklah apa yang mereka kerjakan!" Ini penegasan Allah Subhannahu wa Ta'ala.

Perbuatan mereka itu jelas dicap sebagai keburukan. Namun bukan sekadar mandeg/berhenti sampai perbuatan mereka itu saja sirkulasinya. Tidak.

Dalam contoh kasus ini, yang berusaha mencari makanan haram tentunya adalah orang tua, penanggung jawab keluarga. Tetapi yang memakan hasilnya, makanan haram, berarti seluruh keluarga yang ditanggung oleh pencari harta haram itu.

Dan ternyata, betapa bejatnya akhlaq/moral pemuda-pemuda alias anak-anak mereka yang diberi makan dengan makanan haram itu. Pemuda-pemuda itu sampai begitu lancangnya, menarik-narik kain perempuan di pasar saat berjual beli.

Mungkinkah pemuda-pemuda tersebut sebejat itu kalau mereka ditumbuhkan dengan makanan halal, mereka lihat orang tuanya shaleh, lingkungannya baik-baik dan terjalin ukhuwah/ persaudaraan dengan baik?

Sebaliknya, mungkinkah dengan modal makanan haram itu orang tua menunjukkan "baiknya" perbuatan jahat mereka (yang sudah ketahuan memburu barang haram), menampakkan ketulusan hati (yang sudah ketahuan rakus terhadap barang haram) dan menasihati dengan amalan baik-baik (sedang dirinya jelas melanggar)? Tidak mungkin.

Maka tumbuh dengan suburlah generasi penerus mereka itu dengan pupuk-pupuk serba haram dan jahat.

Itulah.Orang alim agama ada yang lebih parah
Sikap seperti itu sungguh parah. Tetapi, masih ada yang lebih parah. Karena yang lebih parah ini bahkan menyangkut orang-orang pandai dan pemuka agama, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala mengecamnya cukup diawali dengan bentuk pertanyaan.

“Mengapa orang-orang alim mereka, dan pendeta-pendeta mereka (Yahudi) tidak melarang mereka mengucapkan perkataan dosa dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (Al-Maidah : 63).

Kita dalam hal diamnya para alim dan pemuka agama di kalangan Yahudi itu bisa juga menduga-duga kenapa mereka tidak mencegah perkataan dosa dan makan haram. Dugaan itu akan membuat perasaan bergetar, kalau sampai mereka yang alim dan pemuka agama di kalangan Yahudi itu bahkan antri ikut makan haram.

Maka ayat tersebut, bagi Ibnu Abbas (sahabat Nabi n yang ahli tafsir Al-Quran) adalah celaan yang paling keras terhadap ulama yang melalaikan tugas mereka dalam menyampaikan da'wah tentang larangan-larangan dan kejahatan-kejahatan.

Bahkan Ad-Dhohhaak berkata, tidak ada ayat dalam Al-Quran yang lebih aku takuti daripada ayat ini.

Tidak kurang dari itu, bahkan cercaan Allah itu lebih penting untuk disadari oleh ulama Islam, bukan sekadar cerita cercaan terhadap pendeta-pendeta Yahudi.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.




Selasa, 03 Mei 2011

DUNIA OH DUNIA




BERHATI-HATILAH TERHADAP DUNIA



Dunia adalah kediaman yang fana. Ia bukan rumah tempat berteduh, bukan sabana tempat merumput. Ia adalah tempat persinggahan sejenak yang penuh tipu daya. Ia adalah tempat yang hina di hadapan Allah, maka bercampurlah antara yang haram dengan yang halal, antara yang ma’ruf dengan yang mungkar, antara kehidupan dan kematian, dan antara manis dengan pahitnya.


Saudaraku,
Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang secara mengesankan memberikan perumpamaan tentang dunia. Ayat pertama berbunyi, "Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al Kahfi [18] : 45)
Sedangkan ayat kedua berbunyi, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan hanya sesuatu yang melenakan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah SWT serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid [57] : 20)


Saudaraku,

Dunia ini memang tidak ada apa-apanya. Dia hanyalah ladang kesia-siaan sekiranya kita hanya menjadikannya pemuas nafsu, memperturutkan segala bentuk tipuan setan. Dititipi harta, gelar, pangkat, dan jabatan, bukannya dijadikan sebagai ladang syukur nikmat kepada Zat yang telah menitipinya kelebihan dunia ini tersebut, melainkan dijadikannya ladang petaka laknat karena menjadi ujub, riya, sum’ah, takabur, serta gemar berbuat aniaya pada sesama manusia. Dititipi istri yang cantik dan anak yang lucu-lucu, bukan semakin membuatnya dekat kepada Allah, justru semakin lalai dan jauh dari karunia-Nya. Pendek kata, apapun nikmat yang dititipkan kepadanya hanya membuatnya semakin jauh tergelincir mmperturutkan hawa nafsu dan tipuan setan, naudzubillaahi min dzalik!

Orang seperti ini biasanya akan selalu merasa pusing dengan urusan dunia. Setiap saat pikirannya akan selalu disibukkan untuk mengejar dunia sebanyak-banyaknya. Ia akan tertawa bila apa yang dikejarnya di dapat, tetapi akan kecewa, gelisah, dan marah bila apa yang diinginkannya tidak kesampaian. Pokoknya, otak dan hatinya akan terus dilanda pusing, pusing, dan pusing. Tidaklah aneh, karena dunia sepertinya telah memperbudak setiap desah nafas hidupnya, setiap denyut darah di urat nadinya, setiap jengkal langkah demi langkah hidupnya. Dunia telah jadi bagian yang melenakan tugas hidupnya sebagai seorang hamba. Dunia telah menggerogoti pikiran rasionalnya sebagai seorang hamba.



Saudaraku,

Pantaslah bila Imam Ali r.a. dalam sebuah khutbahnya mempertanyakan orang-orang dengan tabiat seperti ini, "Ada apa dengan kalian ini, sehingga kalian merasa puas dengan sedikit yang kalian peroleh dari dunia ini. Sementara, sesuatu yang banyak dari akhirat dan hilang dari kalian, tidak membuat sedih? Yang sedikit dari dunia ini yang untuk itu kalian menderita sakit sedemikian banyaknya, sehingga ia menjadi tampak pada wajah kalian atas apa saja yang diambil dari kalian. Seakan dunia ini adalah kediaman yang kekal dan seakan kekayannya menetap pada kalian selama-lamanya?"

Betul, Allah tidak akan menjauhkan dunia dari pecinta-Nya. Tidak pula Ia kikir dengan itu kepada yang ingkar dari-Nya. Tapi ingat,kebaikannya amatlah jarang dan keburukannya selalu siap mendera. Pantaslah Allah telah mengingatkan kita dalam sebuah hadits qudsi bahwa, "Kalau dunia ini ada harga sesayap nyamuk, niscaya orang-orang kafir tidak akan diberi minum walau barang seteguk." Begitu tidak berharganya dunia di hadapan Allah. Lalu, layakkah kita mengejar-ngejarnya begitu rupa sampai tidak peduli halal haram? Sampai tidak peduli hukum-hukum Allah? Sungguh sebuah pekerjaan yang teramat bodoh.



Saudaraku,

Berhati-hatilah dengan dunia ini. Ia adalah kesenangan yang menipu, seandainya kita tidak benar dalam menyikapinya. Rasulullah SAW dan para sahabat pun telah begitu rupa mengingatkan tentang hakikat dunia ini. Sabdanya, "Cinta kepada dunia adalah sumber dari segala kejahatan." Orang boleh kaya dunia, tetapi Nabi SAW melarang cinta kepada dunia. Seperti Nabi Sulaiman AS dan para sahabat yang kaya, mereka ternyata berhasil menundukan dunia di dalam genggamannya. Dunia sama sekali tidak diletakkan di dalam hatinya, cinta kepada Allah justru itulah yang selalu menyelimuti hati-hati mereka.

Pantaslah bila Imam Ibnu Athaillah dalam kitabnya yang terkenal, Al Hikam, menasehatkan, "Istirahatkan dirimu dari kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin oleh lain mu, tidak usah kau sibuk memikirkannya." Seorang hamba hanya wajib dan melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah ada di tangan majikan. Maka tidak usah risau pikiran dan perasaan untuk mengaturnya, karena kuatir kalau apa yang telah dijamin itu tidak tiba atau terlambat, sebab ragu terhadap jaminan Allah adalah tanda kurangya iman.



Saudaraku,

Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya. Karenanya, daripada sibuk mencari-cari dunia, lebih baik carilah Yang Memiliki Dunia! Dia-lah Allah SWT.





Maukie

Shark Break